UNTUK APA KHAWATIR
James Lowell memberi kita nasihat yg paradoks : "marilah kita bergembira, mengingat bahwa kemalangan atau kesusahan yg paling berat adalah kemalangan / kesusahan yg tdk pernah terjadi" Kutipan ini adalah puntiran menarik tentang suatu kegiatan yg sia-sia, yg diraakan banyak orang bagi tuntutan agar bertanggungjawab. Kegiatan tersebut disebut mengkahawatirkan! Saya bertanya-tanya, berapa banyak sih remaja yang pulang larut malam dengan selamat berkat ibunya yang begadang menkhawatirkan dimana mereka berada dan apa yang sedang mereka perbuat? Saya bertanya-tanya, berapa banyak sih orang yang berhasil mengubah kesusahan atau kemalangan dalam kehidupannya dengan memuntir tangan, tidak makan dan sulit tidur?
Ada suatu etika yang tertanam di dalam diri banyak orang bahwa mengkhawatirkan itu suatu kebajikan. Entah bagaimana itu menunjukkan bahwa kita sangat memperdulikan sesuatu. Seandainya kita dapat memahami suatu prinsip lain, khawatir akan menjadi urusan masa lalu. Prinsipnya sederhana saja : masing2 orang mempunyai energi untuk dimanfaatkan, dan kita memanfaatkannya sebagaimana yang kita pilih sendiri. Jadi, untuk apa memilih memanfaatkannya untuk mengkhawatirkan ?
Ketika sesuatu mengancam, atau terjadi, sehingga menimbulkan keprihatinan kita, rencanakanlah untuk berbuat sesuatu tentang itu. Ambillah tindakan ! Renungkanlah apa yang akan mengubah situasi tersebut, dan ciptakanlah hasil yang positip, dan manfaatkanlah energi kita untuk itu. Ambillah langkah pertama, bahkan yang terkecilpun, sebisa kita, menuju solusinya, daripada menyia-nyiakan energi, untuk mengkhawatirkan.
Bersikaplah proaktif, berfikirlah ke depan, bereskanlah segalanya secara tepat waktu agar kita dapat terhindar dar menciptakan sesuatu situasi yang menimbulkan ketegangan.
Untuk hari ini, kalau kita temukan diri kita menkhawatirkan, ambillah nafas dalam-dalam lewat hidung kita, hembuskanlah nafas tersebut perlahan-lahan lewat mulut kita, dan rilekslah...
Lalu tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah yang pertama-tama dapat kuperbuat tentang hal ini, yang menciptakan hasil positif? Lakukanlah itu, ambillah tindakan.
Ingatlah selalu!
Tuhan memberkati
FT
James Lowell memberi kita nasihat yg paradoks : "marilah kita bergembira, mengingat bahwa kemalangan atau kesusahan yg paling berat adalah kemalangan / kesusahan yg tdk pernah terjadi" Kutipan ini adalah puntiran menarik tentang suatu kegiatan yg sia-sia, yg diraakan banyak orang bagi tuntutan agar bertanggungjawab. Kegiatan tersebut disebut mengkahawatirkan! Saya bertanya-tanya, berapa banyak sih remaja yang pulang larut malam dengan selamat berkat ibunya yang begadang menkhawatirkan dimana mereka berada dan apa yang sedang mereka perbuat? Saya bertanya-tanya, berapa banyak sih orang yang berhasil mengubah kesusahan atau kemalangan dalam kehidupannya dengan memuntir tangan, tidak makan dan sulit tidur?
Ada suatu etika yang tertanam di dalam diri banyak orang bahwa mengkhawatirkan itu suatu kebajikan. Entah bagaimana itu menunjukkan bahwa kita sangat memperdulikan sesuatu. Seandainya kita dapat memahami suatu prinsip lain, khawatir akan menjadi urusan masa lalu. Prinsipnya sederhana saja : masing2 orang mempunyai energi untuk dimanfaatkan, dan kita memanfaatkannya sebagaimana yang kita pilih sendiri. Jadi, untuk apa memilih memanfaatkannya untuk mengkhawatirkan ?
Ketika sesuatu mengancam, atau terjadi, sehingga menimbulkan keprihatinan kita, rencanakanlah untuk berbuat sesuatu tentang itu. Ambillah tindakan ! Renungkanlah apa yang akan mengubah situasi tersebut, dan ciptakanlah hasil yang positip, dan manfaatkanlah energi kita untuk itu. Ambillah langkah pertama, bahkan yang terkecilpun, sebisa kita, menuju solusinya, daripada menyia-nyiakan energi, untuk mengkhawatirkan.
Bersikaplah proaktif, berfikirlah ke depan, bereskanlah segalanya secara tepat waktu agar kita dapat terhindar dar menciptakan sesuatu situasi yang menimbulkan ketegangan.
Untuk hari ini, kalau kita temukan diri kita menkhawatirkan, ambillah nafas dalam-dalam lewat hidung kita, hembuskanlah nafas tersebut perlahan-lahan lewat mulut kita, dan rilekslah...
Lalu tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah yang pertama-tama dapat kuperbuat tentang hal ini, yang menciptakan hasil positif? Lakukanlah itu, ambillah tindakan.
Ingatlah selalu!
Tuhan memberkati
FT
Read more...